SAMARINDA. Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) kembali harus bekerja keras pascabanjir. Hasil rapat koordinasi (rakor) pengendalian banjir di balaikota, siang kemarin, untuk jangka pendek DBMP akan melakukan pembersihan outlet drainase menuju sungai.
“Kita akan lakukan pembersihan saluran di outlet SKM (Sungai Karang Mumus, red), Karang Asam Besar dan Karang Asam Kecil,” ungkap Kepala DBMP Ir Dadang Airlangga N MMT ketika ditemui di ruang kerjanya.
Selain pembersihan saluran, DBMP juga diperintahkan untuk melakukan perbaikan terhadap jalan-jalan berlubang akibat aspal tergerus banjir. “Untuk sementara hanya akan dilakukan penambalan sambil terus kita inventarisir di mana saja jalan yang rusak,” tandasnya.
Selain langkah-langkah teknis, DBMP juga membuat booklet dengan menggandeng berbagai konsultan mengenai strategi mengatasi banjir di kota ini. Dalam pekan ini, booklet itu akan disampaikan kepada Walikota Samarinda Drs H Achmad Amins MM. Langkah itu juga dibarengi dengan berjuang ke Pemprov Kaltim dan pemerintah pusat untuk mendapatkan dana untuk mengatasi banjir. “Kita akan terus berjuang ke provinsi dan APBN,” imbuhnya.
Dadang merupakan salah satu pejabat yang ikut ke Denmark. Dijelaskannya, kunjungan ke Denmark itu untuk melihat sistem dan jenis mesin pompa yang akan digunakan untuk berbagai polder di Samarinda. Seperti diketahui, Pemkot akan membangun sekitar 20 polder untuk mengatasi banjir. Tahun depan, akan dibangun di dua titik yakni di kawasan Jl Damanhuri dan di Bengkuring.
“Kita melihat sistem, jenis dan kapasitasnya. Selanjutnya kita akan ekspose ke dewan,” tandasnya.
Dadang mengatakan, kawasan Jl Mayjen Sutoyo (eks Remaja) merupakan daerah rendah, bahkan yang terendah. Kawasan Jl Damanhuri dipilih menjadi lokasi polder karena lokasinya yang lebih tinggi. “Awalnya kita cari di kawasan Jl PM Noor, tetapi hilang fungsi karena sudah banyak dibangun perumahan,” katanya.
Dadang juga sedikit menyinggung tentang Waduk Benanga. Hingga kini, proyek peningkatan daya fungsi Waduk Benanga yang akan menjadi arena dayung terus dikerjakan. Arena dayung itu memiliki panjang 1.200 meter, lebar 150 meter dengan kapasitas 8 jalur dan kedalaman 3 meter. “Bisa menampung hingga 540 ribu meter kubik air, tetapi itu juga tidak terlalu besar,” pungkasnya. (nin)
Desember 31, 2008 pukul 9:46 am |
sebaiknya teman teman mencermati masalah banjir bukan hanya dari pernyataan dadang ailangga saja tetapi melakukan konfirmasi dengan pihak pihak lain yang peduli dengan permasalahan banjir di samarinda. banjir di samarinda adalah lebih pada faktor hulu yaitu pertambangan batu bara di hulu sungai karang mumus. harap tidak terkooptasi dengan pembutan polder dan proyek mahal lainya. tapi juga harus melihat permasalahan lingkungan di samarinda dari aspek penting yang melingkupinya seperti morfologi, DAS, topografi dll
April 14, 2009 pukul 6:28 pm |
yap….. tul………. daku juga dulu orang smd…. tapi kaya nya masalah banjir tuh ga tuntas” disono….
semuanya kita kembalikan pada kebijakan pemerintah ( kan orang” yang duduk disana pada pinter” tuh )…
kita hanya dapat melakukan apa yang terbaik agar tidak menambah parah bencana itu terjadi…….
dan hal lain yang ga bisa dilupakan adalah BERDO’A . . .
chayo…….. buat rekan” sekalian di bumi kalTim ini……